Home Berita Utama Jokowi Lebih Tidak Manusiawi

Jokowi Lebih Tidak Manusiawi

387
0
SHARE

Indonesia, memiliki sejarah kelam dalam masa transisi pemerintahan. Di mana, bukan hanya sekali terjadi peristiwa beradarah. Tragedi 98 atau yang dikenal dengan peristiwa Semanggi adalah salah satu sejarah kelam dari pemerintahan.

Kala itu, rakyat memprotes pemindahan kekuasaan sementara dari Soeharto ke Habibie. Protes meluas, bahkan sampai mendapatkan perhatian dari seluruh rakyat Indonesia dan dunia.

Semanggi, menjadi peristiwa kelam. puluhan orang meninggal akibat aksi, yang diklaim sebagai aksi brutal aparat penegak hukum. Nyawa bergelimpangan. Peristiwa berdarah itupun menjadi sejarah kelam di negeri ini.

Satu persatu saksi ataupun orang tua dan kerabat korban mencoba menuntut keadilan pada setiap penguasa yang hadir memimpin negeri ini. Sampai saat ini, 18 tahun sudah berlalu. Belum ada tindakan kongkrit dari pemerintah sah yang memimpin.

Pada usia 18 tahun ini, seorang ibu bernama Sumarsih kembali mencoba untuk menuntut keadilan.

Di pemerintahan Jokowi, Marina Katarina Sumarsih, yang anaknya menjadi korban peristiwa Semanggi kembali mencoba menuntut keadilan. Ia mengaku sudah 3 kali berkirim surat kepda presiden Jokowi, tetapi jangankan diundang ke istana, di balas pun tidak. Selalu saja ada alasan dari presiden, ujarnya.

Ia ingin bicara langsung kepada Presiden mengenai Tragedi Semanggi I yang merenggut nyawa putranya, Bernardus Realino Norma Irmawan, pada 13 November 1998.

Sumarsih mengatakan, surat pertama dikirimkan bulan Januari 2015, surat kedua Maret 2015, dan yang terakhir pertengahan tahun 2016.

Dilaporkan Tribunnews, Senin (13/2/2017), Sumarsih dengan kecewa mengatakan, kalau pihak istana sama sekali tidak berniat menyelesaikannya.

“Jawabannya sih enggak pernah ada, saya yang menelusuri, tetapi kemudian orang staf Sekretariat Kabinet mengatakan, Pak Presiden belum mengagendakan untuk menerima kami keluarga korban,” ucapnya di kantor Staf Kepresidenan, Kompleks Istana, Jakarta, Senin (13/2/2017)

Sumarsih menegaskan, kalau Jokowi tidak mau bertemu juga tidak ada masalah, namun ia berharap agar pemerintah mau menyelesaikan sejarah kelam anak bangsa tersebut. Bagaimanapun ini menyangkut nyawa seseorang.

Semestinya kejadian itu diselesaikan dengan pengadilan Ad Hoc, bukan rekonsiliasi. Menurutnya, rekonsiliasi hanya akan menambah daftar panjang pengkaburan masalah saja. Dan tidak pernah menyelesaikan masalah yang ada.

Untuk itulah Sumarsih dan Kontras berusaha memprotes langkah pemerintah.

Menurut Sumarsih presiden sebelumnya lebih manusiawi dan lebih mengerti perasaan rakyat. Dia pernah ditemui presiden Abdurahman Wahid, Megawaty bahkan sampai SBY. Mereka semua menjanjikan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

SBY menyampaikan masalah tersebut harus diselesaikan dengan pengadilan Ad Hoc. Namun Jokowi paling beda.

Waktu itu, Pak SBY bilang begini, hukum harus ditegakkan, kasus Trisakti, Semanggi 1 dan II diselesaikan melalui pengadilan HAM ad hoc. Sama Pak Jokowi justru belum (bertemu),” kata Sumarsih.

“Jokowi lebih tidak manusiawi menurut saya,” ujar dia

LEAVE A REPLY